DRAMA KOREA (Tahun Film)

Jumat, 15 Juni 2012

Sinopsis Protect the Boss Episode 17

Mendengar bunyi klakson dari belakang, Ji Heon tersenyum dan berlari menghampiri Eun Seol. Eun Seol buru-buru memundurkan mobilnya untuk melarikan diri. Tapi Ji Heon berhasil menghentikan dan membuka pintu truk  Eun Seol. Dengan senyum jahil ia memutuskan kalau Eun Seol sebenarnya menyesal.
Eun Seol membantah. Ia TIDAK menyesal, jadi Ji Heon harus segera pergi. Ji Heon tak mau. Jika Eun Seol ingin segera, maka ia akan segera mencium Eun Seol. Mata Eun Seol membesar mendengar jawaban Ji Heon.

Ji Heon memegang dagu Eun Seol seperti yang dulu pernah Eun Seol lakukan padanya dan menyuruh Eun Seol untuk keluar dari truk. Walaupun mulanya menolak, Eun Seol akhirnya keluar dari truk.
Namun truk yang terlalu tinggi membuat Eun Seol hampir terjatuh jika Ji Heon tak menangkapnya. Dengan nada menggoda Ji Heon mengakui kalau badan Eun Seol lebih jujur.
Eun Seol kesal mendengar godaan Ji Heon. Ia mendorong Ji Heon, namun langsung menariknya lagi karena ada mobil yang melaju kencang ke arah Ji Heon.

Dalam pelukan Eun Seol, Ji Heon tertawa membuat Eun Seol semakin kesal. Ia menarik Ji Heon ke pinggir dan menyuruhnya untuk segera pergi. Ji Heon tak mau kan kalau besok ada berita tentang Direktur DN yang dipukuli di pinggir jalan?
Ancaman Eun Seol tak mempan bagi Ji Heon, bahkan saat Eun Seol sudah memasang kuda-kuda untuk memukulnya.  Ji Heon menyesal akan keputusannya dan ia ingin menarik kembali. Eun Seol tak mau. Ia bukan gadis yang bisa disuruh-suruh, membuka dan menutup perasaannya sekehendak Ji  Heon. Ji Heon tahu, karena sifat itulah yang membuat Ji Heon menyukai Eun Seol. Dan sifat percaya dirinya. Dan sifat marahnya juga.

Eun Seol sedikit frustasi dengan kekeraskepalaan Ji Heon. Tahukah Ji Heon bagaimana perasaannya saat ini? Seperti gadis era Joseon yang dimutasikan ke tempat yang terpencil dan hanya bisa bekerja keras. Rasanya tak adil! Dan sekarang, ia minta Ji Heon untuk pergi karena ia masih memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Ji Heon setuju kalau Eun Seol memang memiliki banyak pekerjaan, tapi dengan menggabungkan waktu mereka berdua semuanya akan selesai.
Dibantu oleh Ji Heon, Eun Seol memindahkan kiriman kotak-kotak dari truk ke dalam gudang. Separuh mengeluh dan separuh membanggakan diri, Ji Heon berkata kalau hanya di satu-satunya keturunan chaebol yang bekerja sekeras ini. Eun Seol yang dulu pernah bekerja sebagai part-timer malah memberitahu kalau ada pekerjaan lain yang jauh lebih berat daripada ini.
Ji Heon: "Apa yang paling berat?"
Eun Seol: “Yang paling berat adalah ketika tak ada yang bisa dilakukan."  
Setelah membantu Eun Seol, Ji Heon baru mengeluh kalau tangannya pegal semua. Ia akan memutasikan Eun Seol sesegera mungkin. Ia akan menjemput Eun Seol sendiri. Tapi Eun Seol belum menyetujui hal itu. Ji Heon mengatakan kalau setelah ‘belum’ adalah ‘akan’.
Tiba-tiba handphone Eun Seol berbunyi. Dari Sekretaris Jang yang ingin berbicara dengan Ji Heon. Ji Heon menerima telepon itu, dan menuduh Sekretaris Jang sebagai penguntit karena menghubunginya melalui Eun Seol.

Ji Heon mendengarkan jawaban Sekretaris Jang dan kemudian mengiyakannya. Tak menjelaskan lebih banyak pada Eun Seol, Ji Heon berkata kalau ayahnya sedang bermain drama lagi. Dan ia menyuruh Eun Seol untuk bertemu di taman ini, karena ia akan mengantarkannya.
Namun mengantarkan versi Ji Heon adalah mengantarkan Eun Seol dengan duduk di sampingnya, dan Eun Seol yang menyetir karena Ji Heon tak memiliki SIM khusus truk. Eun Seol menolak tawaran Ji Heon. Namun Ji Heon bersikeras kalau ia akan menunggu Eun Seol sampai datang.
Eun Seol menemui Myung Ran yang sangat gembira bertemu dengan sahabatnya lagi.
Na Yoon menerima kedatangan Myung Ran di apartemennya. Ia tak melihat Eun Seol yang bersembunyi di belakang Myung Ran, dan terpekik kegirangan saat melihat bekas musuh/ sahabatnya muncul dari belakang Myung Ran.
Sementara itu ibu Na Yoon datang menemui ibu Moo Won untuk mengingatkannya tentang usahanya yang membuat ibu Moo Won dapat menduduki jabatan Presdir Cha. Ia juga meminta imbal jasa yang berhubungan dengan bisnis suaminya. Ibu Moo Won atau sekarang Presdir Shin menolak karena ia tak pernah memintanya. Ibu Na Yoon marah mendengarnya. Di dunia ini tak ada makan siang gratis, tahu!
Presdir Shin:  “Benarkah? Aku kok tak tahu ya..”
Moo Won masuk tepat saat pisau-pisau imajiner melayang dari mata Ibu Na Yoon dan Presdir Shin. Moo Won ingin tahu apa yang terjadi? Ibu Na Yoon beranjak pergi dan mengatakan kalau ia akan melarang Moo Won untuk menemui Na Yoon.Ibu Moo Won pun langsung membalas kalau ia tak menyukai Na Yoon juga.

Moo Won mengingatkan ibunya kalau ia dari dulu sudah melarang ibu untuk bergaul dengan ibu Na Yoon. Ibu mengatakan kalau mulai sekarang ia tak akan bergaul dengan ibu Na Yoon lagi. Kali ini Ibu memanggil Moo Won karena ia telah menemukan orang yang ‘tepat’ sebagai tangan kanan dan tangan kirinya. Ia melakukan hal itu juga untuk kepentingan Moo Won juga, kan? Semuanya akan baik jika berakhir dengan baik.  

Moo Won tak melarang, hanya mengatakan kalau ia mengetahui ibu melakukan hal-hal yang illegal, ia sendiri yang akan melaporkannya. “Jika ibu ingin bernasib seperti Presdir Cha, lakukan saja apa yang ibu mau. Akhirnya posisi ibu nanti akan kosong, dan aku kan yang nanti duduk di sana? Kata ibu semuanya akan baik, jika berakhir dengan baik.”
Ayah Ji Heon menonton film tentang orang yang akan mati, dan mendapat inspirasi darinya. Ia menulis daftar keinginan yang belum ia lakukan.
Dengan taksi yang dibayari oleh sekretaris Jang,  Ji Heon datang ke rumah sakit. Ia berbicara dengan dokter dan mendengar kalau penyakit ayah sedikit serius apalagi dipicu oleh stress yang berlebihan. Sekretaris Jang meminta kondisi ayah Ji Heon disembunyikan, karena akan berakibat buruk bagi Ji Heon. Hal itulah yang selalu dikhawatirkan oleh ayah.
Ji Heon masuk ke ruangan ayah dan membaca daftar harapan yang baru saja ayah tulis. Ia tersenyum membacanya dan berkomentar kalau ayahnya terlalu sentimentil.  Ayah membuka pintu kamar mandi, sehingga Ji Heon buru-buru meletakkan daftar itu kembali.

Melihat anak semata wayangnya datang, ayah langsung menghardik Ji Heon karena Ji Heon bersenang-senang dengan Eun Seol sementara dirinya jatuh sakit. Tahukah Ji Heon kenapa ia sakit? Karena mengetahui kalau Moo Won yang mengambil alih semuanya.

Ji Heon menenangkan ayahnya dengan mengakui kesalahannya. Tapi ayah tetap memintanya untuk bekerja keras untuk mengambil kembali posisinya dan menjauhi Eun Seol. Ji Heon menyanggupi untuk bekerja keras untuk meraih posisinya namun ia tak mau menjauhi Eun Seol.
Ayah menyuarakan kekhawatirannya. Jika terjadi sesuatu yang buruk pada dirinya, ia tak dapat melindungi Ji Heon lagi. Ada banyak orang yang ingin menyingkirkan Ji Heon. Jika Ji Heon ketahuan berpacaran dengan sekretaris yang digosipkan membocorkan rahasia perusahaan, Ji Heon akan tamat riwayatnya.

Ji Heon tak akan bertahan di perusahaan yang ia besarkan. Ini adalah perusahaannya, dan Ji Heon adalah anaknya. Jadi Ayah meminta untuk Ji Heon untuk kembali ke akal sehatnya dan bekerja sebaik-baiknya. Jika tidak, ia tak dapat meninggal dengan tenang.
Ji Heon tersentuh mendengar permintaan ayahnya. Walaupun ia tak terbiasa berlaku keren, tapi ia berjanji pada ayah akan bekerja keras, meningkatkan laba, mengambil lagi posisinya.. dan mereka akan berbicara lagi nanti.
Na Yoon bertanya, apakah Eun Seol menemukan cowok keren di tempatnya yang baru? Eun Seol menjawab bahkan tak ada cowok single di tempatnya. Na Yoon menyalahkan Eun Seol yang malah memilih Ji Heon daripada Moo Won yang jauh, jauh lebih keren.

Eun Seol ganti bertanya, bagaimana kemajuan hubungannya dengan Moo Won? Na Yoon mendesah, ia seharusnya lebih cepat menyukai Moo Won. Ia heran pada dirinya sendiri, mengapa dulu ia meninggalkan Moo Won demi pria seperti Ji Heon. Benar-benar tak masuk akal.

Hihihi.. memuji seseorang dengan menjatuhkan orang lain. Eun Seol kesal dan ‘tak sengaja’ menyenggol Na Yoon, sampai nugget yang dipegang Na Yoon terjatuh. Na Yoon membalas Eun Seol dengan melemparkan  nugget ke mulut Eun Seol. Eun Seol tak sudi dan sudah mengacungkan tinjunya ke Na Yoon.
Dan mereka dibentak keras oleh Myung Ran yang tak memperbolehkan mempermainkan makanan.
Yes, Mom..
Sebagai tanda perdamaian, Na Yoon menyuapkan nugget ke Eun Seol.
Tak sesuai dengan ucapannya, malamnya Eun Seol malah menunggu kedatangan Ji Heon. Tapi yang ditunggu-tunggu tak datang juga. Tiga jam lebih menunggu, Eun Seol pun beranjak meninggalkan taman.
Tapi Ji Heon datang juga, bersamaan dengan Eun Seol yang hampir pergi. Eun Seol mengatakan Ji Heon sudah terlambat. Ia tak mau menunggu lagi. Ji Heon memeluk Eun Seol dari belakang, memintanya untuk menunggu lebih lama lagi karena ia sedang berusaha menjadi seorang anak.
Eun Seol bertanya, mengapa ia harus menunggu? Bagaimana jika Ji Heon berubah pikiran lagi? Ia tak mau menunggu. Tapi Ji Heon percaya kalau Eun Seol akan menunggunya. Eun Seol merasa Ji Heon sedikit muram, apakah ada yang terjadi hari ini?
Ji Heon tak menjawab, ia memeluk Eun Seol yang memintanya untuk tak pergi. Ji Heon mengiyakannya, tapi tetap memeluknya.
Kembali ke rumah sakit, Ji Heon memandang ayahnya yang tertidur lelap. Rasa sayang itu terpancar dari Ji Heon. Ia meniup telapak tangan kanannya, kemudian tangan itu diletakkan di dadanya. Perlahan tangannya menapak dada ayah.
Ji Heon kemudian menggenggam tangan ayah.
Sementara itu, Eun Seol kembali ke tempat kerjanya sendirian.
Dalam buku hariannya, Eun Seol menulis:
“Aku pernah mengatkan kalau aku tak akan menunggunya. Tapi hari ini adalah hari ke-11 aku menunggunya.”

Saat Eun Seol bekerja, ia merasa Ji Heon datang. Tapi setelah ia kejar, ternyata itu hanya bayangannya saja.
Di pantai, Eun Seol bertemu dengan Ji Heon. Namun pertemuannya kali ini diawali dengan pukulan keras Eun Seol pada Ji Heon karena Ji Heon tak muncul selama sebulan ini. Ji Heon berkilah karena percaya kalau Eun Seol akan menunggunya. “Terlambat”, kata Eun Seol,”Aku akan menjadi tua karena menunggumu.”
Ia menendang dan memukul Ji Heon sampai Ji Heon tak dapat bangun.
Setelah itu tubuh Ji Heon lenyap.
Ternyata tadi hanyalah imajinasi Eun Seol yang sekarang merasa sudah hampir gila. Di buku hariannya, ia menulis lagi:
“Mungkin sesuatu telah terjadi. Ketika aku mulai memikirkan hal-hal yang mengerikan, Ji Heon muncul di berita televisi.”
Di televisi, Ji Heon memperkenalkan Tablet terbaru dari DN grup  dan berbicara dengan sangat fasih dan lancar. Eun Seol menemukan gambar Ji Heon di koran dan menggambarinya. Setengah kesal dan setengah bersyukur, Eun Seol bergumam kalau ia seharusnya tak membantu Ji Heon mengatasi fobianya karena ia dapat berbicara di depan public sangat lancar sekarang.
Eun Seol akhirnya memutuskan untuk resign dari kantornya. Saat ini ia telah menunggu selama 3,5 bulan dan tak menunggunya selama 0,7 bulan  Ia bekerja sebagai pengantar makanan sambil tetap melamar pekerjaan yang sesuai untuknya.
Na Yoon menunggu Moo Won yang berjanji untuk bertemu dengannya hari ini. Moo Won akhirnya datang juga setelah terlambat sekian lama.  Ia berdalih kalau ia sekarang sedang amat  sangat sibuk setelah menjabat menjadi direktur.

Na Yoon menjawab iapun juga begitu, karena ia juga direktur. Sebenarnya apa arti Na Yoon bagi Moo Won? Apakah tak sepenting pekerjaannya? Moo Won tak menjawab pertanyaan sindiran Na Yoon, membuat Na Yoon kesal.
Moo Won malah bertanya mengenai kabar Eun Seol. Na Yoon tak tahu, tapi bagaimana dengan Ji Heon? Moo Won juga tak tahu, tapi ia yakin kalau Ji Heon sudah memiliki rencana.
Percakapan mereka terhenti karena Moo Won menerima telepon dari Jepang. Melihat hal itu, Na Yoon bangkit dan meninggalkan Moo Won.
Moo Won mengejarnya dan meminta Na Yoon menunggunya sebentar. Tapi telepon itu kembali berbunyi. Na Yoon merasa seperti penguntit Moo Won yang selalu mengejar dan menunggu Moo Won, dan sekarang ia sudah lelah karenanya.
“Hal yang paling penting adalah hatimu. Kau sepertinya tak memiliki perasaan lagi padaku.”
Moo Won tak sempat menjawab Na Yoon karena handphonenya kembali berbunyi. Na Yoon meminta Moo Won untuk mengangkat telepon itu dan ia pun berlalu pergi.
Ibu Na Yoon bertemu dengan Manager Park yang mengeluh kalau ia mungkin akan ditendang dari perusahaan. Ibu Na Yoon yang sudah bosan mengurusi Manager Park menyuruhnya untuk mengeluh pada Presdir Shin.
Tapi menurut Manager Park, ia sudah melakukannya tapi Presdir Shin malah menyuruhnya untuk mengeluh pada ibu Na Yoon. Ibu Na Yoon yang tak ingin mendengarkan rengekan Manager Park, menyuruh pengawalnya untuk menyeret Manager Park keluar. Manager Park bersumpah akan membalas perlakuan mereka berdua.
Na Yoon datang dan sempat melihat kericuhan itu.

Ibu Na Yoon menyuruh Na Yoon untuk tak dekat-dekat dengan Moo Won lagi dan menyuruhnya untuk mengikuti matseon. Di luar dugaannya, Na Yoon langsung menyetujuinya.
Di rumah, ia menangis dan mengatai Moo Won di hadapan Myung Ran dan Eun Seol. Ia meminta mereka untuk bermalam di rumahnya kali ini.
Seperti di rumah Eun Seol, mereka bertiga tidur di bawah. Na Yoon meminta pendapat Eun Seol, apakah ia mampu memutuskan hubungan dengan Moo Won? Tidak, jawab Eun Seol. Na Yoon kemudian menanyakan kabar Ji Heon. Ia juga sudah lama tak bertemu dengan Ji Heon. Apakah sekarang Eun Seol dapat melupakan Ji Heon? Tidak, jawab Eun Seol.
Na Yoon memandang Eun Seol kemudian menyeberangi Myung Ran, tangannya menepuk-nepuk Eun Seol memberinya semangat. Eun Seol pun, dengan kakinya, menepuk-nepuk kaki Na Yoon memberinya semangat juga.
Dan ibu Angsa membuka mata, tersenyum dan memeluk kedua anaknya erat.

Big hug…
Tak disangka, Eun Seol dicari seorang headhunter. Headhunter adalah orang yang mencari calon karyawan yang tepat bagi suatu perusahaan yang menyewa jasanya. Eun Seol sedikit sangsi dengan headhunter tersebut. Mengapa dirinya yang dicari? Headhunter tersebut mengatakan karena kemampuan Eun Seol untuk menangani Direktur Cha Ji Heon yang terkenal sulit.
Eun Seol meminta maaf karena ia terlalu curiga. Dan ternyata ia mendapat pekerjaan di Department Store milik DN grup. Ia merasa aneh karena tak diberitahu sebelumnya tentang calon tempat kerjanya. Headhunter itu membantahnya, ia sudah memberitahukan Eun Seol sebelumnya.
Eun Seol masih bertanya-tanya, apa mungkin Moo Won yang mengaturnya agar kembali lagi ke DN? Moo Won tak mengetahuinya karena ia sedang mengurusi perusahaan DN yang lain.
Dan Eun Seol pun bertemu dengan calon bosnya. Yang tak lain dan tak bukan adalah Ji Heon.
Eun Seol langsung maju menghajar Ji Heon. Tapi Ji Heon yang sekarang bukan seperti Ji Heon yang dulu ataupun Ji Heon imajiner yang ada di pantai. Ji Heon yang ini dapat menangkap tas yang dilemparkan Eun Seol. Ia juga dengan mudah menghindari pukulan Eun Seol. Eun Seol mencoba menendangnya tapi Ji Heon dapat menahannya.
Eun Seol menarik kerah Ji Heon, mengatakan Ji Heon salah memilih orang untuk dipermainkan. Ji Heon memang memiliki uang dan kekuasaan, tapi ia tak dapat mempermainkannya. Tanggapan Ji Heon? Ia hanya tersenyum manis, membuat Eun Seol semakin kesal.

Ia hendak membenturkan kepalanya ke kepala Ji Heon, tapi Ji Heon malah memegang kepalanya. Ia sudah pernah mengalami hal ini, maka hal itu tak akan terulang lagi. Akhirnya Eun Seol meraih kerahnya lagi dan menangis.
Ji Heon meminta maaf karena Eun Seol menunggunya lebih lama dari yang diperkirakan. Eun Seol membenarkan kalau perlu waktu lebih lama untuk melupakan orang seperti Ji Heon.  Iapun pergi meninggalkan Ji Heon.
Namun Ji Heon belum mau menyerah. Ia mengejar Eun Seol yang tak sabar menunggu lift dan menuju tangga. Ia memegang kepala Eun Seol lagi dan memintanya untuk memukulnya. Pukullah ia sampai ia puas.
Tapi kali ini Eun Seol menolak. Ji Heon masih menganggap kemarahannya hanyalah guyonan belaka. Ia tak mau memperhatikan Ji Heon lagi sekarang.

Ji Heon menceritakan kondisi Presdir Cha yang sebenarnya. Ayahnya dulu sakit, namun sekarang sudah sembuh. Dan ayahnya terlalu berlebihan dalam menghadapi penyakitnya. Jadi ia harus menenangkan ayahnya.  Ia telah berjanji untuk tak menemui Eun Seol dulu. Walaupun begitu, ia selalu memperhatikan Eun Seol.

Apakah Eun Seol masih marah? Ji Heon merasa alasannya terlalu lemah. Tapi maukah Eun Seol untuk menghentikan amarahnya?
Eun Seol masih merasa marah karena selama Ji Heon hilang tanpa kabar, Eun Seol sendirian merasakan marah dan khawatir. Dan saat ini, Eun Seol tak dapat menerima Ji Heon kembali karena pintu itu sudah tertutup rapat untuknya.
Ia pun berlalu pergi, meninggalkan Ji Heon yang hanya dapat menghela nafas sedih.
Ayah yang sudah keluar dari rumah sakit, bertemu dengan dokter Kim yang meyakinkannya kalau operasinya sangat berhasil, dan penyakitnya tak berbahaya lagi. Namun yang menjadi perhatian ayah, sebagai mantan penderita kanker, apakah ia tak dapat membatalkan pelayanan masyarakat?

Tentu saja Ayah Ji Heon tak dapat membatalkan hukuman pengadilan. Dokter Kim menyarankan agar Ayah Ji Heon melakukannya, hitung-hitung sebagai latihan yang bagus untuk kesehatannya.
Di mobil, ayah membaca-baca lagi daftar harapannya. Dan Oh My God! Sekretaris Jang belum menikah?
Salah satu harapan ayah sebelum meninggal adalah membuat Sekretaris Jang untuk menikah. Ia bertanya seperti apakah wanita ideal menurut Sekretaris Jang? Sekretaris Jang bingung mendengar bosnya tiba-tiba menanyakan hal itu.

Ayah Ji Heon kemudian membaca harapannya yang lain. Yaitu tak akan membiarkan ibunya kesepian dan akan mencarikan pacar untuknya.
Di rumah Ayah Ji Heon menyapa Nenek yang langsung bertanya tentang kondisi kesehatannya. Tentu saja baik, anak siapa dulu..
Ayah Ji Heon kemudian meminta ibunya untuk naik ke atas punggungnya. Ia ingin menggendong nenek, karena kata orang semakin tua tubuh akan semakin ringan. Tapi mengapa rasanya ibunya terasa sangat berat? Sepertinya Nenek harus berolahraga lagi.

Nenek memukul kepala anaknya kesal.

Akhirnya khas K-drama keluar juga. Piggybacking, walaupun bukan romantic piggybacking, tapi tetap “aww… Ji Heon’s dad is so sweet..”
Ji Heon pergi mengunjungi kantor lamanya. Di dalam ruangannya, ia menyentuh dan menatap barang-barang kantornya dengan rasa sayang. Moo Won yang masuk dan melihat tatapan itu menggoda Ji Heon kalau ia pasti sekarang sedang bernostalgia. Ji Heon membantahnya, ia malah kesal karena banyak debu di ruangannya. Sekretaris Kim tak mematuhinya untuk membersihkan ruangan.
Moo Won memberikan dokumen perusahaan untuk meng-update Ji Heon. Walaupun dokumen itu diterima Ji Heon, ia berkilah kalau Moo Won tak perlu bersusah payah melakukannya. Ia sekarang mampu kembali ke DN grup karena kemampuannya sendiri. Moo Won rasa kemampuannya belum sehebat itu. Buktinya Ji Heon belum mampu menyelesaikan masalah ceweknya.
Ji Heon kesal dikata-katai oleh Moo Won. Tapi.. ia berpikir sejenak. Ia kemudian malah bertanya apakah Moo Won tahu cara meredakan amarah seseorang? Moo Won tak mau mengajarkannya.
Dengan nada menggoda Moo Won menyuruh Ji Heon berkata dengan nada lebih sopan padanya karena ia adalah atasannya, dan panggil dia dengan Direktur Cha.
Saat Moo won hendak pergi meeting dengan klien bersama ibunya, ia diberitahu kalau Na Yoon hari ini sedang mengikuti matseon (kencan yang diatur oleh orang tua). Ibu menunjukkan karakter Na Yoon yang bukan gadis baik karena ia cepat melupakan Moo Won. Mendengar hal ini, ia buru-buru menghentikan mobil dan meminta ibunya untuk pergi sendiri.
Na Yoon menemui  pasangan matseonnya, yang mungkin jika ibu Na Yoon melihatnya sudah langsung dicoret dari daftar. Dari dandanannya seperti pengendara Harley Davidson, lengkap dengan scarf yang menutupi kepalanya.
Harley mengatakan kalau ia mendengar gosip yang beredar tentang Na Yoon dan kedua sepupu Cha, tapi karena ia orang yang suka berterus terang dan jujur, ia tak keberatan dengan hal itu.
Dari tadi Na Yoon menyabarkan hati mendengar kata-kata Harley Davidson yang sepertinya cocok untuk menjadi aktor Sageuk. Namun kata-kata Harley Davidson yang terakhir membuat ia meminta agar matseon ini dihentikan.
Si Harley Davidson mengatakan kalau Na Yoon tak punya sopan santun. Na Yoon membalikkan kata-kata itu untuk Harley Davidson. Dengan dandanan seperti itu, selama 20 menit si Harley Davidson malah meremehkan dirinya. Kalau dulu, ia akan mencoba menahan diri. Tapi sekarang? Buh bye..
Si Harley Davidson mencekal tangan Na Yoon, membuat Na Yoon marah. Si Harley mau cari mati, ya? Ia meraih pisau (makan) dan menyuruh mantan pasangan matseonnya untuk tak mendekatinya. Ia pun berlari dengan sedikit ketakutan. Namun si Harley mengejarnya!
Melihat Moo Won datang, ia buru-buru bersembunyi di balik Moo Won. Harley menyuruh Moo Won untuk minggir. Tapi Moo Won tak mau. Ia malah meminta Harley Davidson untuk berpikir kalau hari ini adalah hari keberuntungannya, karena tak bergaul dengan gadis yang kekanak-kanakkan dan sangat melelahkan menghadapinya. Ia telah mengalaminya, dan sarannya pada Harley adalah segera menyingkir dan lari dari Na Yoon. Atau ia ingin melihat berita di koran tentang perkelahian mereka karena seorang gadis?
Moo Won mengacungkan tinjunya, dan Harley mengatakan kalau Moo Wonlah yang menang. Ia mengacungkan kedua jarinya, membentuk posisi gunting kemudian pergi.
Moo Won mengejar Na Yoon yang mencoba meninggalkannya. Mau kemana Na Yoon pergi? Ke matseon lagi? Na Yoon berbalik dan membenarkan Moo Won. Mengapa? Karena Moo Won sudah tak mempedulikan perasaannya lagi, maka ia melakukannya. Dan mengapa Moo Won mengatainya kekanak-kanakkan dan menyebalkan? Apakah Moo Won sangat membencinya?
Moo Won menyembunyikan senyumnya mendengar kata-kata Na Yoon. Ia mendesah, mengetuk kepala Na Yoon, mengatakan kalau sebenarnya Na Yoon tak cerdas. Na Yoon terkesima mendengar hinaan Moo Won. Apa?
“Metafora, perbandingan, dan sarkasme. Apakah kau tak terbiasa dengan cara-cara itu?”
Tentu saja Na Yoon tahu, kata Na Yoon membela diri. 

Oke, anggap saja Na Yoon mengerti. Moo Won bertanya lagi, “Apakah selama ini aku pernah berkencan dengan wanita selain kau?” -Apakah bertemu dengan Eun Seol sepulang kerja dapat dihitung?-

“Apakah aku sepertimu? Menjalani matseon?”  -Tidak-

“Apakah aku tak mengatakan kalau aku sekarang sedang super sibuk?” -Iya, kau sudah mengatakannya.-


“Dan selama aku sibuk, saat kau menggangguku dengan permintaanmu untuk bertemu, apakah aku tak pernah datang?” -Mmmhh.. kau selalu datang.-

“Jadi, kesimpulannya, siapa yang salah?”
“Aku.. sepertinya sedikiiiitt.. salah.”
Moo Won tersenyum geli, dan bertanya sekali lagi. Apakah Na Yoon akan mengulanginya lagi? Na Yoon menggeleng, ia tak akan mengulanginya lagi.
Seperti seorang guru yang sudah selesai menjelaskan pada muridnya, Moo Won mengelus kepala Na Yoon, memuji Na Yoon patuh padanya. Na Yoon menepis tangan Moo Won, takut rambutnya berantakan.

Ia juga menyalahkan Moo Won dalam masalah ini. Hal itu langsung dibenarkan oleh Moo Won. Tapi untuk menyelesaikan masalah ini ia harus membatalkan meetingnya.  Jadi sekarang Na Yoon harus bertanggung jawab, menemaninya pergi.

Score to Moo Won! Seharusnya Ji Heon mengikuti Moo Won hari ini, karena ia akan tahu cara Moo Won untuk menyurutkan amarah seorang gadis.
Namun Ji Heon mempunya cara tersendiri. Ia mengikuti Eun Seol ke rumah makan tempat Eun Seol bekerja. Ia meminta pemilik rumah makan untuk membebaskan Eun Seol hari ini, dan ia akan mengganti pendapatan yang biasanya didapat. Walaupun Eun Seol menolaknya, tapi kata-kata pemiliklah yang berkuasa.
Eun Seol kesal karena sekali lagi Ji Heon memamerkan kekayaannya lagi. Ji Heon melakukan itu karena ingin EunSeol keluar dari pekerjaannya sekarang dan menjadi sekretarisnya lagi.  Ini adalah murni pertimbangan bisnis, karena Eun Seol membuktikan kalau ia mampu menjadi sekretaris yang handal. Ia akan memberikan kenaikan gaji 10%.

Eun Seol tak mau.
Di hari lain, Ji Heon muncul di tangga menuju rumahnya, dan bergaya Power Rangers, Ji Heon menawarinya kenaikan 15%.

Eun  Seol sedikit mempertimbangkannya, tapi ia tetap tak mau.
Di hari lainnya lagi, Eun Seol menjalani interview yang hasilnya tak begitu menggembirakan. Ji Heon muncul dan menawarinya kenaikan gaji 20% plus insentif dan bonus. Hanya itu yang dapat ditawarkan oleh Ji Heon, karena melebihi itu akan menyalahi aturan perusahaan. Ji Heon menyuruh Eun Seol menghubunginya untuk memberikan jawaban.

Take it or leave it?
Eun Seol menceritakan tawaran Ji Heon pada Myung Ran. Walaupun ia ingin menendang Ji Heon dan menolaknya, tapi akhirnya ia memutuskan untuk menerimanya. Harga diri tak mampu untuk menghidupinya. Jaman sekarang harga diri dan gengsi sudah lenyap. Kenapa jaman sekarang memperlakukan kaum muda yang tak bekerja secara tak adil?
Myung Ran tersenyum mendengar ocehan Eun Seol yang melantur. Eun Seol seharusnya jujur dan menerima tawaran Ji Heon dari dulu. Bukannya dengan begini Eun Seol dapat dekat dengan Ji Heon lagi? Eun Seol membantahnya. Siapa bilang ia ingin dekat dengan Ji Heon lagi?

Righhhhtt… Okeyyy.. Myung Ran mengangguk-angguk ‘mengerti’.
Ji Heon memberitahukan keinginannya untuk mempekerjakan Eun Seol lagi pada ayah. Ayah tentu saja menolak. Sekarang Ji Heon sudah melakukan kemajuan, kenapa malah melakukan ini? Bukannya marah, Ji Heon malah senang mendengar kata-kata ayah karena berarti ayah mengakui kemajuannya. Ia mengibaratkan (keledai akan maju jika diberi) wortel, mmhh.. tapi Ji Heon benci wortel.
Ia kemudian mengibaratkan kalau kemajuannya seharusnya diberi penghargaan, yaitu gula, sehingga ia merasa kerja kerasnya berarti. Ia telah melakukan semua permintaan ayah, sehingga ayah harusnya juga memberinya sesuatu sebagai imbal balik.
Ayah akan memberi. Ia akan memberikan gula pada Ji Heon, tapi Eun Seol? Tidak boleh. Ji Heon boleh meminta apa saja kecuali No Eun Seol. Tapi Ji Heon tak mau yang lain selain Eun Seol.

Ayah menghardik Ji Heon dengan keras, membuat dadanya sakit. Ia mengeluh dan memegang dadanya. Ji Heon buru-buru bangkit menghampiri ayah, memegang tangan ayah dan berkata,
“Berhenti main drama, Ayah..”
Ji Heon mengingatkan Ayah tentang perjanjian mereka di rumah sakit. Ayah masih mencoba berkelit janji, tapi Ji Heon mengancamnya untuk berhenti bekerja dan melupakan janji mereka.
Akhirnya Ayah menyetujui permintaan Ji Heon dengan syarat agar Ji Heon dapat mengalahkan Moo Won dan mengembalikan posisinya sebagai Presiden Direktur. Dan.. yang ia setujui adalah posisi Eun Seol sebagai sekretaris, bukan yang lain.
Eun Seol akhirnya memutuskan untuk menerima pekerjaan Ji Heon. Walaupun ia masih marah, tapi sebagai sekretaris Ji Heon, ia akan bekerja seprofesional mungkin. Tapi ia mengingatkan Ji Heon, kalau hubungan mereka adalah bisnis semata. Ji Heon memastikan hal itu. Dan seperti yang Eun Seol ketahui, ia sangat perfeksionis, dan sekarang level perfeksionisnya semakin tinggi, jadi Eun Seol harus menyamakan standarnya.
Di hari pertama Eun Seol, ia memasuki kantor dengan bahagia. Berbeda dengan saat pertama kali ia memasuki ruang sekretaris, kali ini yupara sekretaris menyambutnya dengan senyum bersahabat, termasuk sekretaris Kim dan Moo Won.
Eun Seol mulai melakukan tugas paginya sebagai sekretaris. Ruangan Ji Heon dibersihkan sampai kinclong dan sarapan pagi Ji Heo juga sudah ia sajikan. Semuanya tanpa cela. Ji Heon, yang begitu datang langsung menginspeksi, memuji Eun Seol yang sudah meng-upgrade hasil kerjanya.
Eun Seol tersenyum mendengar pujian Ji Heon. Tapi tak lama senyuman itu bertengger di wajahnya, karena Ji Heon memutuskan, selain ‘luar’nya, Eun Seol harus mengupgrade ‘dalam’nya. Dan Ji Heon menumpahkan setumpuk dokumen untuk Eun Seol baca dan kerjakan.
Walaupun iya iya, di rumah Eun Seol mendumel dengan tumpukan dokumen yang diberikan padanya. Myung Ran menyalahkan Eun Seol, seharusnya mereka tak bermain drama seperti ini.
Keesokan harinya, Ji Heon memeriksa hasil kerja Eun Seol. Ternyata saat Ji Heon membaca, Eun Seol duduk tertidur. Perlahan-lahan, Ji Heon mendekat dan memandang Eun Seol dengan tatapan sayang dan mencium Eun Seol jauh.
Namun sedetik kemudian Ji Heon membanting kertasnya. Eun  Seol masih belum juga terbangun. Akhirnya Ji Heon meneriakinya. Eun Seol terbangun dan langsung disemprot oleh Ji Heon. Pasti Eun Seol mengerjakan tugasnya sambil tidur. Bagaimana mungkin Eun Seol hanya menulis 26 miliar untuk sales perusahaan sebesar 260 miliar won. Lalu kemana 234 miliar sisanya?
Eun Seol tersentak dan terpana. Ia buru-buru memeriksa pekerjaannya, dan langsung minta maaf mengetahui kesalahannya.
Presdir Shin mendapat laporan dari bawahannya kalau Ji Heon sudah kembali ke kantor pusat dan membawa sekretaris lamanya. Apa Presdir Shin tak terganggu dengan hal itu? Presdir Shin bertanya, apakah dia harus merasa terganggu? Para bawahannya memberikan saran untuk menggunakan kesempatan ini untuk menyingkirkan Ji Heon selamanya. Presdir Shin kelihatan memikirkan saran tersebut.
Tak lama kemudian, Moo Won dan sekretarisnya membaca berita yang sudah menyebar di internet tentang hubungan romantis Cha Ji Heon dan sekretarisnya yang membocorkan dokumen rahasia DN Group. Moo Won menyuruh Sekretaris Yang untuk memberitahu Eun Seol agar bersembunyi untuk sementara waktu.
Tapi terlambat. Saat itu Eun Seol sedang ada di luar. Sesampainya di depan kantor, segerombolan wartawan datang mengerumuninya. Kebetulan Ji Heon baru datang dengan mobil dan dengan tenang meminta mereka agar menanyainya, bukannya Eun Seol.
Mereka bertanya, apakah Ji Heon dan Eun Seol berkencan dan Eun Seol adalah orang yang membocorkan dokumen rahasia DN Group? Eun Seol membantahnya, tapi Ji Heon malah membenarkannya. Ia memandang Eun Seol dengan pandangan paling lucu dan menggemaskan sedunia untuk kemudian memasang ekspresi formal lagi pada para wartawan.

Para wartawan itu tak percaya pada kata-kata Ji Heon. Apa masuk akal Ji Heon berkencan dengan gadis yang membocorkan rahasia perusahaan?
“Bukankah sangat keren? Ia berani untuk berbicara jujur, maka aku terpesona padanya. Itu adalah CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA!”
Kata-kata Ji Heon membuat Eun Seol shock . Dan Ji Heon memandang Eun Seol dengan senyum penuh cinta.



Sumber : www.kutudrama.com




Episode 1 - 2 - 3 - 4 - 5 - 6 - 7 - 8 - 9 - 10 - 11 - 12 - 13 - 14 - 15 - 16 - 17 - 18 Tamat
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar